Senin, 29 Oktober 2012

I.                   PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
            Biologi perikanan adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang kehidupan organisme air (ikan) mulai dari ikan itu hadir ke alam sampai akhirnya mengalami kematian baik secara alami atau oleh sebab lain. Pengetahuan mengenai biologi perikanan ini meliputi kisah kehidupan (natural histori) ikan dan dinamika dalam populasi ikan. (PULUNGAN, 2005).
            Anak ikan yang baru ditetaskan dinamakan dengan larva, tubuhnya belum terbentuk dengan sempurna baik organ luar ataupun organ pada bagian dalam. Larva dibagi atas dua yaitu pro larva dan post larva. Pro larva yaitu larva yang masih memiliki kuning telur, sirip belum terbentuk secara sempurna dan belum memiliki bukaan mulut, sedangkan post larva yaitu larva yang telah memiliki bukaan mulut dan siripnya telah terbentuk secara sempurna. Lamanya masa inkubasi yang terjadi pada telur yang telah dibuahi akan berfariasi pada setiap individu ikan yang berbeda.
 Setiap larva ikan yang baru saja ditetaskan atau yang baru dikeluarkan dari cangkang telur akan memasuki suatu fase kehidupan yaitu fase larva. Individu yang ada dalam fase larva akan mengalami suatu masa yang paling kritis dalam kehidupannya. Karena pada fase ini individu ikan mengalami masa peralihan dari bentuk primitif kebentuk definitive.
Kematian ikan di perairan umum selain mengalami kematian secara alami kini kematian individu ikan itu sebagiab besar disebabkan oleh adanya penangkapan terutama pada spseies ikan yang bernilai ekonomis tinggi, pencemaran oleh adanya limbah industri, pertambangan, pertanian, pemangsaan oleh predator, serangan hama dan penyakit dan pengaruh alam seperti oleh adanya elnino dan gelombang tsunami. (Pulungan, 2005)
      Aktifitas rumah tangga yang limbahnya dibuang ke perairan umum juga bisa menyebabkan kematian pada ikan. Limbah yang mengandung berbagai bahan kimia dari aktifitas rumah tangga seperti mencuci yang menghasilkan limbah dari sabun ini bisa menyebabkan kematian pada ikan jika keadaana ini berlangsung terus-menerus.
Menduga populasi penting artinya dalam Biologi perikanan sebagai upaya mengelola sumber-sumber hasil perikanan dimasa yang akan datang. metode pendugaan populasi dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu : (1) dengan cara langsung yaitu dapat dilakukan pada suatu kolam yang luasnya terbatas. Sehingga kolam tersebut dapat dikeringkan dan ikan-ikannya ditangkap dan dihitung. (2) dengan cara tidak langsung yaitu dengan memperhatikan pengurangan “ Catch per Unit effort “. Dalam perhitungan sering menggunakan metode regresi dari De Lury juga Laslie dan Davis. Dapat juga menggunakan   metode penandaan (marking dan Tagging). (Pulungan, 2005)
Beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan dalam percobaan pemberian tanda pada ikan adalah tujuan percobaan pemberian tanda, lamanya percobaan, cara-cara mengembalikan ikan bertanda, macam-macam dan jumlah ikan yang terlihat dan tenaga yang tersedia. Metoda dalam penghitungan pendugaan populasi ada tiga yaitu metoda Petersen (sensus tunggal),metoda Zoe schanabel (sensus ganda) dan metoda Schumecher dan Eschmeyer.
Untuk mempelajari sebagai unit studi terlebih dahulu harus mengetahui parameternya.Pada metode penandaan kegunaannya antara lain adalah untuk mengetahui parameter populasi yang terdiri dari densitas, mortalitas, recruitment dan laju ekploitasi, kecapatan dan arah ruaya, penentuan umur dan pertumbuhan, tingkah laku, dan daerah penyebarannya.(Pulungan, 2005)

1.2. Tujuan dan Manfaat

            Tujuan dari praktikum larva ikan ini dalah untuk mengetahui larva suatu individu ikan yang akan diamati baik berupa pro larva ataupun prost larva beserta cirri-ciri yang dimilikinya.
            Sedangkan manfaat dari praktikum ini adalah mahasiswa bisa membedakan tahap larva dan dapat mengamati kuning telur yang dibawa oleh larva tersebut.
      Tujuan dari praktikum mortalitas ikan ini adalah untuk mengetahui tentang tingkat kematian yang dialami oleh ikan diakibatkan oleh pengaruh limbah yang dihasilkan oleh deterjen.
Sedangkan manfaat dari praktikum ini agar kita mengetahui tentang gejala dari ikan yang telah terkena bahan pencemar dan seberapa lama ikan akan mati setelah terkena bahan pencemar.
      Tujuan dari praktikum pendugaan populasi, agar kita mengetahui jumlah populasi dari suatu peairan.
      Sedangkan manfaat, kita bisa mengetahui berapa jenis ikan yang berada di suatu perairan.





II. TINJAUAN PUSTAKA



Pada larva mengalami masa peralihan antara fas primitif dengan fase definitive. Fase primitif artinya sebagian organ tubuhnya belum terbentuk secara sempurna dan belum dapat difungsikan dengan baik, sedangkan fase definitive yaitu bentuk individu baru yang sudah memiliki bentuk tubuh secara sempuran dan semua organ tubuh telah berfungsi seperti ynag terdapat pada induknya.(PULUNGGAN dan RIDWAN, 2005)
            Pada masa pro larva, larva tersebut membawa kuning telur yang baerguna untuk cadangan makanan bagi individu ikan diperairan. Cepat lambatnya kuning telur tersebut habis berbeda satu dengan yang lainya antara individu ikan ini sangat dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain jumlah kuning telur yang dibawa telur itu sendiri, factor fisologis selama periode embriologi, kondisi lingkungan separti suhu lingkungan, dan sifat dari sepses itu sendiri. (PULUNGAN, 2005)
            Larva ikan yang baru ditetaskan pergerakannya hanya sewaktu-waktu saja dengan mengerakkan bagian ekornya ke kiri dan kekanan dengan banyak diselingi istirahat karena tidak dapat mempertahankan posisi tegak. Sehingga dengan banyaknya bergerak mempercepat habisnya kuning telur yang dimilikinya. (EFFENDIE, 2002).
              Spesies yang bersifat selalu hidup di lapisan permukaan perairan lebih mudah mengalami kematian dari speies ikan yang hidup di dasar perairan. Speies ikan yang sudah umum dibididayakan masyarakat dan suka bermain ke lapisan permukaan perairan adalah ikan Mas (Cyprinus carpio), ikan Gurami (Ospronemus gouramy) dan ikan Nila (Oreochromis niloticus) (Pulungan, 2005).
Klein  (1962) Mengemukakan bahwa pencemaran air dapat disebabkan oleh padatan maupun cairan, pencemaran dalam bentuk cair ditentukan oleh bahan tersuspensi atau bahan terlarut didalamnya seperti Peptisida, Randap, selanjutnya dikatakan pula penyebab utama pencemaran air oleh limbah cair yang berasal dari  limbah industri, pemukiman dan pertambangan.         
Keberadaan suatu populasi dalam perairan dapat diduga melalui metode pendugaan populasi yang terbagi dua yaitu secara langsung yang dilakukan dengan pengeringan pada suatu kolam yang luarnya terbatas dan dihitung satu per satu, selain itu dapat dilakukan dengan pemotretan gerombolan ikan-ikan pelagis yang hidup di laut dan dapat mengetahui kepadatannya. Secara tidak langsung, dengan memperhatikan pengurangan “Catch per Unit Effort“. Dalam perhitungan menggunakan metode regresi dari De Lury, Leslie dan Davis. Dan dapat juga dengan metode penandaan (marking dan tagging). (Pulungan, 2001). Selanjutnya dikatakannya bagian-bagian tubuh ikan yang diberi tag adalah : a) Kepala yang meliputi tulang rahang, dan tutup insang, b) Bagian tubuh yang meliputi bagian depan sirip punggung, bagian belakang sirip punggung, sirip lemak (adipose fin) dan batang ekor.
Pulungan et al (2003), mengemukakan bahwa pemberian tanda secara marking adalah dengan cara tidak menempelkan benda asing ke tubuh ikan akan tetapi dengan cara melakukan pemotongan salah satu sirip perut atau sirip lainnya, dengan syarat setelah sirip  dipotong maka tidak akan mengganggu aktivitas ikan sehingga memudahkan untuk menangkapnya kembali, atau bisa juga dengan pemberian tato pada operculum ikan serta dengan pemberian lubang pada operculum ikan.
Pemberian tanda pada ikan harus mempertimbangkan beberapa hal separti tujuan dari diadakan percobaan pemberian tanda, lamanya percobaan berlangsung, cara-cara mengembalikan ikan yang bertanda, macam dan jumlah ikan yang terlihat dan tenaga yang tersedia. (Pulungan, 2005)
            Pendugaan populasi yang menggunakan tanda merupakan dasar untuk perhitungan julah ikan yang tertangakap. Disini menggunakan metose Petersen atau metode sensus tunggal dimana semua ikan yang tertangkap diberi tanda dan dilepaskan ke perairan. Metode Schnabel atau metode sensus berganda dimana metodenya hampir sama dengan metode Petersen hanya saja menggunakan semua data yang terakumulasi untuk satu pendugaan. (Effendie, 2002).














III. BAHAN DAN METODE PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat
            Praktikum dilaksanakan pada hari selasa, 23 Oktober 2012, pukul 08.30 WIB sampai dengan selesai, yang bertempat di laboratorium Biologi Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau.

3.2. Bahan dan Alat

3.3. Metode Praktikum

3.4. Prosedur Praktikum
Prosedur praktikum yaitu letakkan larva yang ada dicawan petridis kemudian amati dibawah microscope. Gambarkan bentuk pro larva atau post larva. Catat perbedaan antara keduanya perhatikan ukuranya, dan organ-organ yang dimilikinya.








IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil















4.2 Pembahasan




V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
            Larva adalah individu ikan yang baru ditetaskan. Tubub yang belum terbentuk dengan sempurna baik organ luar ataupun organ pada bagian dalam. Larva dibagi atas dua yaitu pro larva dan post larva. Pro larva yaitu larva yang masih memiliki kuning telur, sirip belum terbentuk secara sempurna dan belum memiliki bukaan mulut, sedangkan post larva yaitu larva yang telah memiliki bukaan mulut dan siripnya telah terbentuk secara sempurna.
Setiap larva ikan yang baru saja ditetaskan atau yang baru dikeluarkan dari cangkang telur akan memasuki suatu fase kehidupan yaitu fase larva. Individu yang ada dalam fase larva akan mengalami suatu masa yang paling kritis dalam kehidupannya. Karena pada fase ini individu ikan mengalami masa peralihan dari bentuk primitif kebentuk definitive.
kematian ikan bisa disebakan oleh bahan pencemar seperti detergen. Bahan pencemar ini bisa merusak sel darah merah sehingga sel darah merah dalam insang menjadi berkurang yang menyebabkab ikan menjadi kekurangan oksigen. Selanjutnya bahan pencemar juga dapat merusak sistem saraf yang menyebabkan kerja tubuh menjadi tidak stabil dan mempengaruhi pergerakan ikan.
Menduga populasi sangat penting artinya dalam biologi perikanan sebagai upaya mengelolah sumber hasil perikanan dimasa yang akan datang.
            Metode populasi ini dapat dibedakan dengan dua metode yaitu secara langsung yang dapat dilakukan pada suatu kolam dengan luas yang terbatas kemudian dihitung satu-persatu. Sedangkan metode yang kedua adalah secara tidak langsung yang dilakukan dengan penggurangan catch per unit effort. Dalam perhitungan sering menggunakan metode regresi dari De Lury, Laslie dan Davis. Dapat juga menggunakan metode penandan (marking dan tagging)
5.2 Saran





























Tidak ada komentar:

Posting Komentar